Pages

Thursday, November 21, 2013

PACARAN BERBEDA AGAMA


Berbagai persoalan mulai bermunculan ketika status pacaran tersebut akan ditingkatkan ke tahap yang lebih serius, mulai dari pihak mana yang harus “mengalah”, biasanya baik pria maupun wanita saling bersikukuh dengan keyakinannya dan saling mengajak pasangannya untuk “ikut” keyakinannya, kalaupun ada yang “mengalah” dan bersedia mengikuti pacarnya, biasanya orang tua yang menolak bahkan tidak jarang para orang tua sekuat mungkin memisahkan mereka. Ada yang tetap nekat jalan terus, tapi ada juga yang langsung bubar …!

Sebut saja pengalaman Dewa dan Dewi lima tahun mereka pacaran, namun pada saat meningkat ke tahap yang lebih serius, orang tua mereka tidak setuju, akhirnya walau sangat pahit hubungan mereka terpaksa bubar !!! lain lagi dengan Hana tiga tahun membina hubungan dengan Joko, namun pada saat mulai menginjak tahap mempermanenkan hubungan mereka dengan membangun rumah tangga, orang tua mereka tidak setuju, walau hubungan mereka tidak sampai bubar, namun Hana dan Joko menjalani hubungan pacaran ini dengan perasaan bingung dan khawatir akan kelanjutan kisah asmara mereka.

Pernikahan memang bukan hanya sekedar perwujudan perasaan cinta antara pria dan wanita tapi lebih dari itu dibutuhkan suatu kesediaan untuk tidak hanya mengedepankan perasaan dan kepentingan diri sendiri serta keyakinan yang dianutnya tetapi juga harus peka terhadap perasaan dan kepentingan serta keyakinan yang dianut pasangannya.

Menjadi persoalan ketika perasaan dan kepentingan ataupun keyakinannya berbeda, pada saat itulah berbagai masalah akan menghadang, karenanya dibutuhkan kesadaran dan kesediaan dari setiap pasangan untuk menyatukan visi sehingga berbagai perbedaan tersebut dapat diatasi.

CARA MENGATASI MASALAH



1. Kenali Masalah Anda
Ini mungkin terdengar aneh (terbaca kali, bukan terdengar). Masa kita punya masalah nggak tahu masalahnya apa?, Tapi itu memang terjadi,. Banyak orang yang pusing dan ketika ditanyai masalahnya, ternyata masalahnya hanya hal yang kecil yang dianggap oleh penanya mudah diselesaikan,. Sebagai contoh misalnya statistik blog nggak naik-naik(halah!, curhat deh!). Sang admin merasa sangat kesal karena ia merasa sudah menyajikan yang terbaik menurutnya dan ternyata blognya nggak laku-laku(waduh-waduh),. Ketika dia meminta bantuan ke temannya, jawaban temannya seperti ini “halah, ngapain gitu aja dipikirin,. pokoknya kan punya blog,.” Nah lo, si Admin merasa belum puas dengan jawaban itu, padahal sebenarnya jawaban itu adalah solusi yang sangat sederhana yang ampuh,. Kan masalahnya cuma itu, dan admin sebenarnya tidak punya target atau acuan apapun untuk blognya,. Yap, SEBAGIAN PERMASALAHAN SEBENARNYA BERASAL DARI PEMIKIRAN KITA SENDIRI, dan kita sulit untuk menyadari hal itu.
2. Cari Akar Permasalahan
Yang ini biasa dilakukan ketika menghadapi masalah yang agak serius,. Memang suatu problem yang kecil akan menjadi sangat menjengkelkan kalu terus menerus terjadi tanpa menemui penyelesaian, meskipun gangguannya tidak seberapa,. Anda harus meemukan pokok permasalahannya,. Misalnya dalam blogging ada komentar seperti ini,. “mas, kok komentarku pending ya?,” lalu “eh, approve komentarku dong,.” dan “sombong sekali komentar saja pakai moderasi segala,.” dan cara Anda mengatasinya adalah menyetujui komentar itu kemudian membalasnya “maaf mas mbak, ini sudah saya setujui” “bukannya sombong mbak, itu memang default seperti itu”,. Anda bisa saja mengatasi komplain seperti itu dengan menyetujui satu persatu dan meminta maaf karena ketidaknyamanan yang terjadi,. Namun kalau Anda mau mencari akar permasalahan sehingga hal tersebut tidak terjadi lagi, tentu saja Anda mengubah setting diskusi sehingga komentar-komentar yang datang tidak perlu meminta persetujuan Anda,. Dan masalah terselesaikan tanpa kambuh lagi, ya nggak?, Weitz, ini cuma permisalan saja, intinya mencari akar permasalahan sangat penting agar masalah tersebut dapat selesai dengan tuntas,.
3. Fokuslah Pada Solusi
Ketika Anda menjumpai suatu masalah, biasanya dialog dalam pikiran Anda seperti ini,. “Aduh, pulsaku habis, nggak bisa sms deh,.” “Ban kurang ajar, mau malming gini pake bocor segala” dan lain sebagainya,. Sadarkah Anda kalau dialog seperti itu adalah penguatan terhadap masalah Anda sendiri?, Kenapa?, karena yang Anda pikirkan adalah masalahnya, bukan solusinya,. Coba kalau dialog dalam pikiran Anda seperti ini, “Aduh pulsa habis, beli ah,.. nitip temen ah,.. berhenti smsan dulu lah,.. hutang dulu lah(lhoo?,)” “Ban bocor, tambal ban dimana ya?,. pinjem motor temen ah,. Jalan kaki ah,. Minggu depan lah,.” Nah, dengan memikirkan solusi, maka masalah yang sepertinya sulit kan bisa ketemu solusinya?,
4. Ubah sudut pandang Anda
Yang ini mungkin lebih ke permisalan dan kondisional saja,. Ketika seseorang menghadapi masalah, orang tersebut akan merasa terbebani dan kadang merasa tidak berdaya dengan masalah tersebut. Hal tersebut dikarenakan tekanan psikologis yang berhubungan dengan mental seseorang,. Mungkin Anda pernah dalam suatu kondisi dimana Anda melihat teman Anda yang mendapatkan suatu masalah,. Disitu Anda bertanya apa masalahnya dan Anda dapat dengan mudah menemukan solusi atau Anda merasa hal tersebut bukanlah masalah yang rumit, tinggal gini, trus gitu, selesai deh, ngapain bingung,. Kenapa hal tersebut terjadi?, karena saat itu bukan Anda yang menghadapi masalah itu, tapi teman Anda, sehingga yang mendapat tekanan adalah teman Anda,. Selain itu Anda dapat lebih menggunakan logika, karena tidak merasa terbebani oleh masalah tersebut,.
Jadi, ketika Anda mendapat suatu masalah, mintalah pendapat orang lain(tentunya semua solusi difilter dulu),. Atau kalau Anda bisa, posisikan diri Anda sebagai orang yang lain dan nasehati diri Anda sendiri,.
5. Refreshing
Nah, untuk yang satu ini, beberapa orang akan menganggap refreshing merupakan salah satu bentuk pelarian dari masalah,. Namun, kalau pikiran kita sendiri penat, pusing, buntu(halah!) bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah?, sedangkan penyelesaian itu sendiri memerlukan pikiran sehat dan logis,. Refreshing sangat diperlukan apabila Anda menemui hal yang sangat rumit, dengan tujuan agar pikiran kita tidak terbebani, serta menemukan solusi dengan pemikiran yang lebih jernih,. Hal ini dapat dilakukan dengan cara sederhana misalnya keluar menghirup udara segar, melakukan hal yang Anda suka, dan lainnya dengan cara Anda sendiri.

SAHABAT SEJATI



Alhamdulillah saya berkesempatan kembali mengisi blog makna hidup ini dengan artikel sederhana tentang arti teman sejati, semoga kita semua dapat mengambil hikmah serta pelajaran dari artikel hidup dan kehidupan ini. Pada artikel kali ini saya akan menuliskan sebuah renungan hidup terutama menyangkut persahabatan atau pertemanan dalam hidup kita atau saya sebut sebagai adab bergaul atau adab pergaulan. Pada tulisan sebelumnya, saya pernah menulis tentang makna sahabat sejati atau arti sahabat sejati dalam kehidupan kita.
Dalam lingkungan kita, banyak sekali macam-macam teman yang bisa kita jumpai, seperti teman ngobrol atau teman bicara, teman curhat, teman bergaul, teman kerja, teman sekolah, teman blogger, teman facebook dan masih banyak lagi yang lainnya. Namun yang paling berarti diantara semuanya adalah teman sejati yaitu teman yang saling mengingatkan, teman yang saling menasehati, teman yang mampu memberikan motivasi, teman yang selalu mengajak pada kebenaran dan teman yang bergaul dengan diri kita karena Allah semata. Dan itulah arti teman sejati menurut pandangan saya yang awam.

Nah pada artikel renungan ini saya ingin mengulas dengan singkat kaitannya jenis teman terutama dari golongan syaitan yang menyerupai manusia atau manusia yang menyerupai syaitan. Semoga kita diberikan hidayah oleh Allah Ta’ala agar kita pandai memilih teman dan berhati-hati dalam mencari teman.
Dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala telah mengingatkan kita, ”Tidaklah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan dari golongan mereka. Mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui. Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang keras. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS : Al-Mujaadilah: 14-15).
Allah Ta’ala dengan tegas melarang hamba-Nya berteman dengan syaitan, sebagaimana tercantum dalam Firman-Nya : ”Barang siapa menjadikan syaitan sebagai teman, maka syaitan itu adalah seburuk-buruk teman.” (QS An-Nisa: 38)
Sesungguhnya seseorang bisa tergelincir bergaul atau berteman dengan syaitan dalam arti sesungguhnya. Ia dengan sadar menjadikan syaitan sebagai pelindung, penolong, dan pendamping, bahkan pemberi kekuatan.
Pertemanan dengan syaitan bisa juga dalam wujud lain, yakni bergaul dengan mereka yang memperturutkan hawa nafsunya, gemar berbuat maksiat, dan hanya sibuk dengan urusan dunia yang fana ini.
Oleh karena itu, hendaknya seseorang memperhatikan juga kepribadian orang yang hendak dijadikan sebagai teman dalam hidupnya. Teman yang tidak baik adalah ‘’sebuah penyakit” setelah kelalaian menjaga pandangan, lisan, dan perut yang bisa merusak hati, bahkan merusak segalanya.
Ini akan berbeda dengan orang yang bergaul dengan mereka yang dekat dengan Allah. Pergaulan semacam ini akan senantiasa diwarnai saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.
Mereka akan selalu berupaya saling tolong menolong serta berharap teman-temannya menjadi baik dan semakin baik. Mereka tidak saling memposisikan diri menjadi beban satu sama lain, tetapi justru ingin saling meringankan. Dan juga tidak menikam dari belakang. Mereka akan selalu berusaha agar sahabatnya semakin mulia dan semakin selamat di sisi Allah.
Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap lingkungan pergaulan. Jika saat ini kita tengah berada dalam lingkungan pergaulan yang sangat kotor dan buruk, mari segera kita tinggalkan dan mencari lingkungan yang lebih baik lagi. Mari kita hindari orang-orang lalai. Mari kita ingatkan mereka termasuk diri sendiri menuju kebenaran dan berusaha untuk menjadi orang benar. Mari kita hindari perkataan sia-sia dan perkataan tidak berguna.
Sebuah syair dan nasehat mengingatkan kita : “Barang siapa bergaul dengan pandai besi, niscaya akan ikut bau bakaran, bahkan bukan tidak mungkin akan ikut terbakar sekalian. Akan tetapi, barang siapa bergaul dengan penjual minyak wangi, maka tidak bisa tidak, ia akan terpapar bau harum.”

DOA ORANG TERANIAYA



Ketika itu tanggal 23 Desember 2010 seperti biasa selepas shalat, waktu itu Shalat Shubuh saya membaca lanjutan bacaan Kitab Alquran, saya tertegun dan berhenti pada awal Juz 6 Surat al Nisa ayat 148 yang berbunyi:
لا یحب الله الجهر باالسوء من القول الا من ظلم وکان الله سمیعا علیما
artinya: Allah tidak menyukai perbuatan buruk yang diucapkan secara terus terang, kecuali oleh orang yang dizalimi. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha mengetahui.
Ayat ini “melegalkan” perkataan buruk atau sumpah serapah yang dilakukan oleh orang orang yang teraniaya atau terzalimi, dan itu semua dikategorikan kedalam “doa”. Doa orang orang yang terzalimi adalah mujarab alias “tokcer” langsung didengar dan dikabulkan olehNya, sebagaimana termaktub dalam sebuah hadits, yang berbunyi:
“Hati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada suatu penghalang pun antara doa tersebut dan Allah.” (HR Bukhari).
Di tangan mereka, doa lebih tajam dari pedang dan lebih hebat dari pasukan bersenjata. Maka, hati-hatilah terhadap doa orang terzalimi! Karena jika sudah keluar dari mulut, ia akan berjalan menuju langit. Segera melampaui cakrawala, menembus angkasa, dan diijabahi Sang Maha kuasa.
Tetapi dalam kelanjutan ayat tersebut diatas, selanjutnya Allah menjelaskan:
ان تبدو خیرا او تخفوه او تعفو عن سوء فان الله عفو قدیرا.
Artinya: Jika kamu menyatakan sesuatu kebajikan, menyembunyikannya dan memaafkan sesuatu kesalahan orang lain, Maka sungguh Allah Maha Pemaaf, Maha Kuasa.
Sungguh Indah Ajaran Mu ya Rabb….
Siapa pun di dunia ini pasti pernah mengalami sakitnya hati, karena disakiti, dihina, dizalimi, atau dikhianati, sikap kita menentukan nasib kita selanjutnya, masa depan kita tergantung kepada apa yang kita lakukan sekarang, dan ingat Allah selalu ada untuk kita, memperhatikan dan membantu kita.. Jangan bersedih hati, pertolongan Allah akan segera datang dan diperlihatkan sebelum kita meninggalkan dunia ini..

JODOH DI TANGAN ALLAH



“Jodoh ada di tangan Tuhan.”
Benar seperti itu? Ya memang benar. Tapi sayangnya ada saja orang  yang salah dalam memahami kalimat tersebut. Pikirnya jodoh itu akan datang sendiri tanpa dicari. Anggapnya jodoh itu sudah ditentukan tanpa harus berikhtiar. Begitu? Bukan mas mas mbak mbak. Jodoh itu bukan seperti dongeng Cinderella yang pasti bertemu dengan Pangeran. Mencari jodoh itu sama seperti kita mencari rezeki. Jodoh adalah pilihan kita sendiri. Ingat: PILIHAN.
Lho kok pilihan kita? Bukankah jodoh, rezeki, kematian, itu semua sudah ditakdirkan oleh Allah, bahkan semua itu telah ditentukan sebelum kita lahir?
Ya betul, jodoh seseorang memang sudah ditentukan sebelum dia lahir. Seperti di tulisan-tulisan sebelumnya mengenai takdir dan dunia paralel, jodoh pun merupakan hasil dari pilihan kita dengan persetujuan dari Tuhan yang sebelumya sudah ditentukan sejak lahir.

Ya, ini misalnya saja ya, Tuhan telah menentukan jodoh sang Pemuda seperti skema atas. Jika sang Pemuda memilih untuk menjadi da’i, pada akhirnya ia bisa berjodoh dengan wanita sholehah atau wanita karir (sesuai persetujuan Tuhan). Namun jika sang Pemuda memutuskan untuk menjadi seniman musik, Tuhan telah menentukan bahwa ia akan berjodoh dengan artis sinetron saja, tidak dengan yang lain.
Dalam agama Islam, Allah telah menegaskan hal ini dalam Al-Qur’an Surat An-Nuur ayat 26 yang artinya:
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).” (Q.S. 24:26)
Maka dari itu, jodoh tidak datang sendirinya. Jodoh itu didapatkan ketika sudah berusaha, berdoa, dan memilih. Jika kita menginginkan pasangan yang baik dalam kehidupan kita, sudah sepatutnya kita berusaha untuk menjadi baik pula.

TAKDIR



Tentang Takdir
Konsep takdir, selalu menjadi perdebatan dan pertanyaan banyak orang. Belakangan ini, saya cukup banyak menemukan pertanyaan atau pun diskusi-diskusi tentang takdir. Bagi Umat Islam, Takdir merupakan bagian daripada Aqidah, karena merupakan bagian daripada Iman terhadap Qadla dan Qadar, dimana kata Takdir ini merupakan kata yang berasal dari Qadar. Karenanya, pemahaman tentang takdir ini sangat penting bagi seorang muslim. Sebab, pemahaman akan takdir ini akan menentukan arah dan sikap seorang muslim terhadap berbagai hal yang terjadi selama hidupnya. Karenanya, banyak juga ulama-ulama yang membahas konsep takdir ini dalam buku yang mereka buat.
Mengenai takdir ini, terdapat 3 golongan yang memahaminya secara berbeda. Golongan pertama, yang berpendapat bahwa manusia itu tidak bebas sama sekali, apa yang kita lakukan, sudah ditentukan oleh ALLAH. Golongan yang kedua, berpendapat bahwa kita sangat bebas, apa pun yang kita lakukan, tidak ada campur tangan Tuhan sama sekali. Dan golongan terakhir yang berpendapat bahwa apa pun yang kita lakukan semuanya ada dalam aturan-aturan Allah, ada campur tangan Allah, tapi kita pun memiliki pilihan untuk melakukan sesuatu.
Saya sendiri, jauh sebelum mengenal konsep takdir, memiliki pemahaman tersendiri berdasarkan hasil berfikir dan merenung. Dalam buku Pengajaran Agama Islam karya HAMKA, disebutkan bahwa arti Qadla itu adalah aturan, sedangkan Qadar adalah ukuran. Jauh sebelum membaca buku tersebut, saya berfikir bahwa segala hal yang ada di muka bumi ini, tunduk pada hukum sebab-akibat. Buat saya, pemahaman terhadap Qadla dan Qadar itu sederhana saja. Apapun yang terjadi di bumi ini, pasti ada sebabnya, bahkan kematian, rezeki dan jodoh pun tunduk pada hukum ini. Dalam buku tersebut juga dikatakan bahwa hukum sebab-akibat ini lah yang kemudian disebut dengan Sunatullah. Dalam ajaran Islam, segala yang ada di muka bumi ini mengikuti Sunnatullah, aturan Allah. Itulah Qadla. Sedangkan Qadar adalah ukuran dari aturan-aturan tersebut. Besar-kecil (ukuran) usaha atau ikhtiar dalam mengikuti aturan tersebut akan menentukan hasil, karenanya hasil dari usaha inilah yang disebut dengan takdir.
Saya tidak pernah berfikir bahwa Allah mengatur kehidupan manusia ini seperti kita memainkan catur. Tidak seperti itu. Karenanya, saya tidak setuju dengan golongan yang pertama. Buat saya, campur tangan Allah itu ada pada aturan-aturan yang Dia buat. Dan kita, sebagai manusia, ada dalam aturan-aturan tersebut, sehingga kita pun tidak bebas sama sekali dari campur tangan Allah. Karenanya, saya pun tidak sepakat dengan golongan yang kedua. Lalu, aturan yang seperti apa kah yang sudah Allah tentukan ? Segala macam aturan. Tidak hanya tentang aturan bagaimana hidup yang benar, tapi juga aturan-aturan terhadap alam semesta. Umur, mati, sehat, sakit, tua, rusak, itulah aturan-aturan Allah.
Contoh sederhananya begini, kita tahu, semakin tua umur suatu tali, akan semakin lapuk dan kemampuan untuk mengangkat dan menahan bebannya pun akan semakin berkurang, inilah Qadla. Katakanlah, jika dulu tali tersebut sanggup menahan berat 200 Kg selama berjam-jam, maka sekarang tali tersebut hanya mampu menahan beban seberat 50 Kg, itupun kurang dari 2 jam, inilah Qadar. Masalahnya adalah, kita tidak pernah tahu berapa beban yang sanggup tali tersebut tahan dan berapa lama, yang kita tahu, bahwa tali tersebut sudah tua dan lapuk. Karenanya, jika ingin selamat dari kecelakaan, ketika mengangkat benda dengan tali, atau ketika kita bergelantungan dengan tali, adalah dengan menghindari penggunaan tali yang tua tersebut. Kita tidak bisa menantang aturan Allah dengan nekat menggunakan tali tersebut dengan beban melebihi kemampuan tali. Karenanya, ketika kita nekat menggunakan tali tersebut, kemudian kita celaka, tidak bisa kita mengatakan,”Ini adalah ujian dari Allah…”, tidak seperti itu. Karena, Allah sudah memberikan kepada manusia akal untuk digunakan memahami aturan-aturan Allah tersebut, jika kemudian kita menentang akal kita sendiri, dan kemudian terjadi kecelakaan, itu akibat kelakuan kita sendiri. Bukan karena Allah yang melakukan. Karenanya, kita harus intorspeksi, tidak bisa kita menyalahkan Allah. Takdir kita celaka, karena perbuatan kita sendiri. Allah sudah tentukan Qadar pada tiap aturan tersebut. Karenanya, kita harus menggunakan akal kita untuk memahami aturan tersebut dan memilih ketika melakukan sesuatu.
 

Blogger news

Blogroll

About